BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Mikroorganisme yang ingin kita tumbuhkan, yang pertama harus dilakukan adalah memahami kebutuhan dasarnya kemudian memformulasikan suatu medium atau bahan yang akan digunakan. Air sangat penting bagi organisme bersel tunggal sebagai komponen utama protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke dalam sel. Pembuatan medium sebaiknya menggunakan air suling. Air sadah umumnya mengandung ion kalsium dan magnesium yang tinggi. Pada medium yang mengandung pepton dan ektrak daging, air dengan kualitas air sadah sudah dapat menyebabkan terbentuknya endapan fosfat dan magnesium fosfat.
Memformulasikan suatu medium atau bahan yang akan digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di dalamnya harus memperhatikan berbagi macam ketentuan seperti jika yang ingin kita membuat medium untuk organisme bersel tunggal, biasanya air sangat penting sebagai komponen utama protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke dalam sel. Pembuatan medium agar padat, digunakan agar-agar, gelatin atau gel silika. Bahan agar yang utama adalah galaktan (komplek karbohidrat yang diekstrak dari alga genus Gelidium). Agar akan larut atau cair pada suhu hampir 100oC dan akan cair apabila kurang lebih 43oC.

B. Rumusan masalah

Adapun rumusan masalah pada percobaan ini adalah bagaimana cara membuat medium Nutrien Agar (NA), Broth (NB), Potato Desktrosa Agar (PDA), dan Touge Ekstrak Agar (TEA) dan apa komposisi dari medium-medium tersebut

C. Maksud Percobaan

Adapun maksud pada percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami cara pembuatan medium NA (Nutrien Agar), NB (Nutrien Broth), Potato Desktrosa Agar (PDA), dan Touge Ekstrak Agar (TEA).

D. Tujuan Praktikum
Adapun prinsip pada percobaan ini adalah pembuatan medium Nutrien Agar (NA), Nutrien Broth (NB), Potato Desktrosa Agar (PDA), Potato Dekstrosa Broth (PDB), dan Touge Ekstrak Agar (TEA) dengan cara menimbang, melarutkan, memanaskan, mengatur pH dan sterilisasi dalam autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum
Dalam laboratorium mikrobiologi terdapat banyak alat-alat yang perlu diketahui fungsinya, prinsip dan cara penggunaannya. Misalnya saja mikroskop yang merupakan alat utama yang sering digunakan di laboratorium mikrobiologi. Dengan pertolongan mikroskop kita dapat mengamati bakteri yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Mikroskop berfungsi untuk membesarkan benda yang dilihat sehingga membantu untuk mengamati benda yang renik (1).
Andaikata medium dan alat-alat yang kita pergunakan dalam inokulasi harus steril. Andaikata medium dan alat-alat yang kita pergunakan itu tidak steril, niscaya kita tidak akan mungkin memperoleh piaraan bakteri yang kita inginkan. Maka langkah pertama yang harus kita lakukan sebelum mengadakan inokulasi ialah mengusahakan sterilnya medium serta alat-alat perlengkapannya (2).
Bahan ataupun alat yang dipergunakan di dalam bidang mikrobiologi, harus dalam keadaan steril. Artinya pada bahan atau peralatan tersebut tidak didapatkan mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik yang akan mengganggu/merusak media ataupun mengganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan (3).
Ada tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu penggunaan panas, penggunaan bahan kimia, dan penyaringan (filtrasi). Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap air maka disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah, bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering. Di pihak lain, sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi. Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan disterilkan (4).
Panas lembab sangat efektif meskipun pada suhu yang tidak begitu tinggi, karena ketika uap air berkondensasi pada bahan-bahan yang disterilkan, dilepaskan panas sebanyak 686 kalori per gram uap air pada suhu 121 oC. Panas ini yang akan mendenaturasikan atau mengkoagulasikan protein pada mikrooragnisme hidup dan dengan demikian mematikannya. Maka sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat ditembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan pada suhu 110 oC dan 120 oC (4).
Prosedur sterilisasi dengan menggunakan panas kering memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan panas basah. Hal ini disebabkan karena panas kering lebih rendah daya merusaknya dibandingkan dengan uap panas. Keuntungan dari cara ini ialah tidak adanya uap air yang membasahi bahan/alat yang disterilkan. Selain itu peralatan yang digunakan untuk sterilisasi dengan uap kering (oven) lebih murah dibandingkan dengan uap basah. Namun demikian, tidak semua bahan/alat dapat disterilkan dengan cara ini. Bahan yang terbuat dari karet atau plastik tidak dapat disterilkandengan uap kering (5).
Gelas, botol, pipa, pipet yang sudah bersih tidak disterilkan di dalam autoklaf, karena barang-barang tersebut akan tetap basah sehabis sterilisasi. Alat-alat dari gelas dimasukkan di dalam oven kering selama 2-3 jam pada temperature 1600C-1700C, hal ini tergantung kepada banyak sedikitnya muatan yang dimasukkan dalam oven. Kapas masih dapat bertahan dalam oven kering selama waktu dan pada temperature tersebut di atas. Alat-alat yang belum bersih dan belum kering tidak boleh dimasukkan dalam oven kering (2).
Bahan kimia dapat digunakan untuk sejumlah mikroorganisme tetapi tidak dapat digunakan untuk mematikan semua mikroorganisme. Cara kimiawi dapat digunakan bila jumlah mikroorganisme rendah dan bila permukaannya bersih dari protein (5).
Proses sterilisasi lain yang juga dilakukan pada suhu kamar ialah penyaringan. Dengan cara ini larutan atau suspensi dibebaskan dari semua organisme hidup dengan cara melalukannya lewat saringan dengan ukuran pori yang sedemikian kecilnya (0,45 atau 0,22 µm) sehingga bakteri dan sel-sel yang lebih besar tertahan di atasnya, sedangkan filtratnya ditampung dalam wadah yang steril. Beberapa contoh bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini adalah serum, larutan bikarbonat, enzim, toksin bakteri, medium sintetik tertentu, dan antibiotik (4).
II.1 Uraian Alat
II.2.1 Spektrofotometer
Alat ini digunakan untuk mengetahui jumlah absorban pada mikroorganisme. Spektrofotometer terdiri dari spectrometer dan fotometer. Prinsip kerjanya yaitu seberkas cahaya polikromatik akan melalui detector dirubah menjadi cahaya monokromatik dengan panjang gelombang tertentu (200-400 nm) yang mengenai sampel dimana panjang gelombang akan melalui eksitasi electron dan kemudian dipantulkan lagi dan terbaca sebagai panjang gelombang. Alat ini juga dilengkapi dengan kufet sebagai tempat larutan pembanding.
II.2.2 Otoklaf
Otoklaf merupakan alat yang digunakan untuk pengerjaan secara streilisasi. Alat ini digunakan untuk sterilisasi alat yang tidak tahan terhadap panas tinggi, bahan-bahan yang teroksidasi dengan suhu tinggi, alat yang memiliki skala. Proses sterilisasi yang dilakukan dalam tekanan tinggi dari uap air jenuh. Tekanan yang digunakan biasanya 15 lbs (2 atm) pada suhu 121¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬ selama 15-20 menit.
II.2.3 Laf (laminar Air flow)
LAF digunakan dfalam prengerjaan secara aseptis yang berbentuk segi empat panjang yang terdiri dari laminar dan lampu UV, dimana berdasarkan aliran udara laminar secara horizontal dari belakang ke depan sehingga tekanan dalam system lebih besar dari pada diluar system, sehingga kontaminasi mikroba yang ingin diteliti dengan mikroba yang lain tidak terjadi. Adapun melkanisme kerja dari lampu UV yaitu dapat mengubah susunan kimia pada sel bakteri sehingga dapat terjadi lisis yang mengakibatkan sensitifitas bakteri berkurang dan akhirnya mati.
II.2.4 Oven
Alat ini digunakan untuk sterilisasi alat-alat gelas yang tahan terhadap epmanasan tinggi dan tidak berskala. Sterilisasi dengan alat ini digunakan suhu sekitar 160 C – 170 C selama kurang lebih 2-3 jam. Prinsip kerjanya yaitu untuk membunuh mikroorganisme pada suhu atau tekanan yang tinggi sehingga terjadi dehidrasi pada mikroorganisme dan terjadi denaturasi protein.
II.2.5 Inkubutor
Alat ini digunakan untuk peremajaan mikroorganisme. Prinsip kerjanya yaitu untuk mengembangbiakkan mikroorganisme sesuai dengan suhu atau waktu masing-masing yaitu untuk bakterio pada suhu 37 C selama 1X24 jam, dan untuk jamur pada suhu kamar selama 3 X 24 jam.
II.2.6 Mikroskop
Mikroskop digunakan untuk melihat mikroorganisme yang tidak kasat mata sehingga memerlukan suatu pembesaran tertentu.prionsip kerjanya adalah cahaya yang berasal dari sumber cahaya akan mengenai preparat menuju ke lensa obyektif maka akan menghasilkan bayangan maya, terbalik diperbesar lalu diteruskan ke lensa okuler maka akan menghasilkan bayangan nyata tegak diperkecil.

BAB III
METODE KERJA

A. Alat
– Alat tulis
– Autoklaf
– Spektrofotometer UV-Vis
– Enkas
– Filter Bakteri
– Coloni Counter
– Inkubator anaerob
– Inkubator aerob
– Lampu UV
– Mikroskop
– Shaker
– Sentrifuges
– LAF (Laminar Air Flow)
– Oven
– Ose lurus
– Ose bulat
– Dek gelas
– Objek gelas
– Lumpang dan stamfer
– Corong
– Jarum preparat
– Gegep
– Jangka sorong
– Gelas ukur
– Gelas kimia
– Labu ukur
– Pinset
– Lampu spiritus
– Botol pengencer
– Tabung durham
– Pencadang
– Paper disk
– Cawan Petri
– Tabung reaksi
– Spoit
– Pipet volume kuantitatif
– Pipet volume kualitatif
– Pipet skala
– Timbangan analitik
B. Cara Kerja
– Disiapkan alat tulis yang akan digunakan
– Digambar alat-alat yang telah disediakan
– Diberikan keterangan pada alat yang telah digambar.

BAB V
PEMBAHASAN

Pada praktikum mikrobiologi ini, berbagai jenis dari alat yang akan digunakan. Semua alat itu harus diketahui manfaat, prinsip serta kegunaannya. Bahan ataupun alat yang digunakan di dalam mikrobiologi, harus dalam keadaan steril. Artinya pada bahan atau peralatan tersebut tidak didapatkan mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik yang akan mengganggu/merusak media ataupun mengganggu mikroorganisme kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan. Cara pensterilan masing-masing alat tentunya berbeda-beda tergantung pada jenis alatnya. Adapun pengelompokan alat-alat dalam laboratorium mikrobiologi adalah:
• Alat sterilisasi terdiri atas :
1. Autoclave
Otoklaf dibuat pertama kali dan digunakan sewaktu zaman Napoleon untuk memasak makanan bagi tentaranya. Alat ini sebenarnya sama saja dengan “pressure cooker” hanya saja ada pengatur tekanan dan klep pengaman. Uap panas dalam tempat tertutup ini menyebabkan peningkatan tekanan, peningkatan tekanan haruslah berkaitan dengan peningkatan suhu. Otoklaf menggunakan tekanan 15 lbs dan suhu 1210C, meskipun kadang-kadang digunakan suhu yang lebih rendah untuk media yangt tidak tahan panas.
Prinsip dari otoklaf adalah terjadinya koagulasi yang lebih cepat dalam keadaan basah dibandingkan dengan keadaan kering. Harus diperhatikan bahwa dalam sterilisasi dengan otoklaf udara harus dikeluarkan terlebih dahulu sebelum klep ditutup, sehingga di dalamnya hanya terdapat uap panas, uap panas inilah yang memiliki daya kerja sterilisasi. Bila terdapat udara selain uap panas, maka suhu yang dicapai tidak dapat mematikan spora.
Panas lembab sangat efektif meskipun pada suhu yang tidak begitu tinggi, karena ketika uap air berkondensasi pada bahan-bahan yang disterilkan, dilepaskan panas sebanyak 686 kalori per gram uap air pada suhu 121 oC. Panas ini yang akan mendenaturasikan atau mengkoagulasikan protein pada mikrooragnisme hidup dan dengan demikian mematikannya. Maka sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat ditembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan pada suhu 110 oC dan 120 oC.
2. Lampu UV
Prinsip kerjanya berdasarkan aktivitas membunuh bakterinya pada panjang gelombang cahaya. Pada alat ini, mikroba dipaparkan di bawah lampu UV dengan panjang gelombang 256 nm.
3. Oven
Digunakan sebagai alat sterilisasi panas kering dengan temperatur 170-180 oC. Keuntungan dari cara ini ialah tidak adanya uap air yang membasahi bahan/alat yang disterilkan. Selain itu peralatan yang digunakan untuk sterilisasi dengan uap kering (oven) lebih murah dibandingkan dengan uap basah. Namun demikian, tidak semua bahan/alat dapat disterilkan dengan cara ini. Bahan yang terbuat dari karet atau plastik tidak dapat disterilkan dengan uap kering.
Prosedur sterilisasi dengan menggunakan panas kering memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan panas basah. Hal ini disebabkan karena panas kering lebih rendah daya merusaknya dibandingkan dengan uap panas. Keuntungan dari cara ini ialah tidak adanya uap air yang membasahi bahan/alat yang disterilkan. Selain itu peralatan yang digunakan untuk sterilisasi dengan uap kering (oven) lebih murah dibandingkan dengan uap basah.
Gelas, botol, pipa, pipet yang sudah bersih tidak disterilkan di dalam autoklaf, karena barang-barang tersebut akan tetap basah sehabis sterilisasi. Alat-alat dari gelas dimasukkan di dalam oven kering selama 2-3 jam pada temperatur 1600C-1700C, hal ini tergantung kepada banyak sedikitnya muatan yang dimasukkan dalam oven. Kapas masih dapat bertahan dalam oven kering selama waktu dan pada temperatur tersebut di atas. Alat-alat yang belum bersih dan belum kering tidak boleh dimasukkan dalam oven kering.

• Alat aseptic terdiri atas:
1. Enkas
Prinsip kerja dari alat ini yaitu pengukuran secara aseptis berdasarkan berkurangnya kontaminasi mikroorganisme karena system ini dalam keadaan tertutup. Enkas sebelum digunakan seluruh dinding dan dasar enkas dibersihkan lalu disemprotkan dengan alkohol 70%, didiamkan sekitar 30 menit sebelum digunakan.
2. LAF (Laminar Air Flow)
Alat ini berbentuk seperti meja, digunakan sebagai ruangan untuk pengerjaaan secara aseptis. Prinsip kerjanya adalah pengaseptisan suatu ruangan berdasarkan aliran udara laminar (lurus/beraturan) secara horizontal dari dalam keluar sehingga kontaminasi udara dapat diminimalkan.
3. Lampu Spiritus
Alat ini bekerja berdasarkan metode pemanasan bakteri dengan nyala api langsung. Alat ini digunakan untuk meminimalisir kontaminasi mikroba berdasarkan proses denaturasi akibat fiksasi dan pemijaran dengan nyala api langsung.
• Alat inkubasi terdiri atas:
1. Inkubator Aerob
Alat yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri yang bersifat aerob. Prinsip kerjanya adalah penumbuhan bakteri dengan menyediakan suasana lingkungan yang cocok, kaya oksigen, yang akan ditumbuhi oleh bakteri bakteri aerob. Suhu pertumbuhan bakteri 37oC.
2. Inkubator Anaerob
Alat ini digunakan untuk menumbuhkan bakteri yang bersifat anaerob. Bakteri yang akan diinkubasi dimasukkan pompa vakum dinyalakan untuk mengisap udara keluar, vakum dikunci ke kanan (dengan cara diputar) suhu menunjukkan 30oC lalu dimatikan pompanya.
• Alat/wadah pertumbuhan bakteri terdiri atas:
1. Cawan Petri
Terbuat dari kaca yang digunakan sebagai wadah medium padat untuk menumbuhkan mikroba. Cara sterilisasi alat ini, jika dalam keadaan kosong dimasukkan dalam oven, dengan sebelumnya dibungkus dengan menggunakan kertas, bagian putihnya di dalam. Hal ini dilakukan agar tinta pada kertas tidak melengket pada alat. Cara membungkus cawan petri seperti membungkus kado. Jika cawan petri berisi maka, cawan dimasukkan dalam autoklaf.
2. Tabung Reaksi
Tabung reaksi terdiri dari kaca yang berfungsi sebagai wadah atau medium cair dan tempat menumbuhkan (menginokulasi) mikroba. Cara sterilisasinya yaitu dengan dibungkus kertas, bila ada medium di dalamnya dibungkus kertas. Bila ada medium di dalamnya dimasukkan pada autoklaf, tetapi bila tidak ada medium diletakkan di oven.
• Alat untuk menghitung mikroba terdiri atas:
1. Colony Counter
Colony counter adalah alat untuk menghitung jumlah koloni bakteri atau mikroorganisme. Bakteri yang dihitung disini adalah bakteri yang masih hidup. Dimana cara pengerjaannya adalah dengan melakukan pengeceran dari medium bakteri misalnya sampai 3 kali dalam tabung reaksi. Kemudian ditanam bakteri, lalu diinkubasikan dalam alat inkubato. Setelah itu dihitung koloni yang tumbuh.
Cara perhitungan yaitu dengan rumus :
= koloni/mL

Dimana Fp = faktor pengeceran

2. Spektrofotometer UV
Spektrofotometer UV digunakan untuk mengukur kuantitas dari suatu zat berdasarkan absorbsi zat tersebut pada panjang gelombang yang ditentukan. Prinsip kerjanya yaitu cahaya polikromatik dari sumber diubah menjadi cahaya monokromatik oleh monokromator alat spektrofotometer dilewatkan ke suatu sampel di mana sebagian cahaya lagi diteruskan dan tercatat sebagai transmitan. Terdiri atas power dan pengatur pengukuran absorban/transmitan, pengarah angka nol, pengatur panjang gelombang, tempat sampel, pengarah kasar, dan pengarah halus zero untuk mensetkan angka nol.
Cara pengukuran sampel pada spektofotometer ini adalah apabila absorban telah menunjukkan angka nol dan transmitannya menunjukkan angka 100, setelah itu dimasukkan larutan blangko diukur sampai 100 kemudian dikeluarkan dan dimasukkan larutan sampel dan dibaca sampai berhenti transmitannya.
• Alat untuk mengamati mikroba terdiri atas:
1. Mikroskop
– Mikroskop monokuler
Mikroskop adalah alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang kecil atau mikroorganisme yang tidak tampak atau tidak dapat dilihat oleh mata biasa. Mikroskop monokuler ini memiliki satu lensa okuler yang pada prinsipnya sama dengan mikroskop jenis lain yaitu terdiri dari system iluminasi yang menyebabkan terlihatnya specimen objek. Cahaya datang lewat sumber melewati diafragma dengan bantuan cincin pass, sampel dan melewati lensa objektif membentuk bayangan nyata dan sampai pada lensa okuler membentuk bayangan maya diperbesar sehingga dapat dilihat oleh mata.
– Mikroskop kamera
Mikroskop ini disamping digunakan untuk melihat benda-benda yang kecil yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang seperti bakteri, juga dapat menghasilkan foto dari bakteri yang terlihat. Prinsipnya sama dengan mikroskop monokuler tapi terlihat lebih rumit dengan adanya tambahan kamera. Dari alatnya terdapat 3 buah lensa okuler, dua buah untuk melihat preparat dan satu buah untuk melihat objek sudah fokus atau tidak untuk diambil gambarnya. Prinsip kerja dari kameranya sama dengan kerja kamera yang lain. Alat ini sangat berguna untuk penelitian bakteri yang ingin mengambil foto dari bakteri-bakteri.
2. Objek dan dek glass
Objek glass dan dek glass merupakan alat seperti lempengan kaca yang digunakan untuk membantu dalam pengamatan dengan mikroskop. Sampel yang akan diamati diletakkan diatas objek glass dan ditutup dengan dek glass. Cara sterilisasi alat ini adalah dengan membilasnya dengan alkohol.
Alat untuk mempercepat penyebaran mikroba terdiri atas:
Shaker
Alat ini digunakan untuk inkubasi mikroorganisme dengan adanya pengadukan dengan menggunakan kecepatan tertentu. Prinsip kerjanya adalah proses pemerataan dan percepatan pertumbuhan bakteri berdasarkan reaksi fermentasi.
• Alat untuk memisahkan bakteri terdiri atas:
Sentrifuge
Digunakan sebagai alat untuk memisahkan antara filtrat atau residu atau endapan dan larutan untuk menghomogenkan suatu campuran terdiri atas tombol power, pengaruh suhu, lampu sebagai parameter sentrifuge selesai (jika berwarna merah) pengatur kecepatan putaran. Prinsip kerjanya adalah melakukan pemisahan berdasarkan proses pemisahan zat terlarut dari pelarutnya (umunya pemisahan yang terjadi adalah antara partikel padat dengan cairan pelarutnya.
• Alat ukur terdiri atas:
1. Erlenmeyer
Terbuat dari kaca yang digunakan sebagai tempat pencampuran atau melarutkan medium. Cara sterilisasinya yaitu bila kosong disterilisasi dengan oven, sedangkan jika berisi disterilisasi dengan autoklaf. Sebelum disterilkan, terlebih dahulu mulut erlenmeyer ditutup dengan kapas.

2. Gelas Ukur
Terbuat dari kaca yang digunakan sebagai pengukur volume cairan yang akan digunakan secara akurat. Cara sterilisasinya di dalam autoklaf, ditutup dengan kertas lalu diikat dengan benang godam.
3. Jangka Sorong
Jangka sorong digunakan untuk mengukur diameter dalam, diameter luar dan kedalaman suatu alat. Jangka sorong memiliki ketelitian 0,05 mm.
4. Labu ukur
Terbuat dari kaca yang digunakan untuk mengukur volume zat dengan tepat. Cara mensterilkannya di dalam autoklaf, sebelumnya di bungkus kertas dengan cara melilitkan kertas sehingga semua permukaannya tertutup.
5. Timbangan analitik
Timbangan ini berfungsi untuk menimbang sampel atau bahan secara tepat, dengan ketelitian 3 angka di belakang koma dalam satuan gram. Atau untuk menghitung sampel yang beratnya di bawah 1 gram secara tepat. Cara kerjanya yaitu bahan yang akan ditimbang dimasukkan ke dalam, lalu diset atau dinolkan kemudian akan muncul berat bahan dilayar. Setelah digunakan dinolkan kembali.
6. Timbangan gram kasar
Digunakan untuk menimbang medium. Cara kerjanya timbangan dikalibrasikan terlebih dahulu kemudian ditimbang kertas/aluminium foil yang akan digunakan, lalu dinolkan dan ditimbang medium yang akan digunakan.
7. Pipet Skala
Terbuat dari kaca yang berfungsi untuk mengambil cairan per cc. Pipet skala disterilkan dalam autoklaf. Sebelum disterilkan, pipet harus dibungkus dengan kertas, dengan bagian putih ditempatkan bagian luar untuk menghindari adanya tinta yang melengket pada alat.
8. Pipet Volume
Berfungsi sebagai alat untuk mengambil zat cairan sesuai dengan volume yang dibutuhkan. Pipet pipet volum disterilkan dalam autoklaf. Sebelum disterilkan, pipet harus dibungkus dengan kertas, dengan bagian putih ditempatkan bagian luar untuk menghindari adanya tinta yang melengket pada alat. Khusus untuk pipet volum, pada saat membuka setelah sterilisasi, pipet hendaknya dibuka dahulu pada bagian atas untuk mengurangi kontaminasi.
9. Pipet Gondok
Bentuknya seperti pipet ukur/pipet volume tetapi tangannya seperti gondok, berfungsi untuk mengambil cairan per cc. Cara sterilisasinya juga di autoklof. Sebelum disterilkan, pipet harus dibungkus dengan kertas, dengan bagian putih ditempatkan bagian luar untuk menghindari adanya tinta yang melengket pada alat.
• Alat-alat tambahan terdiri atas:
1. Jarum preparat
Alat yang digunakan untuk menginokulasi jamur atau kapang dengan cara membuat titik pada permukaan medium biakan. Cara sterilisasinya dibakar sampai memijar diatas lampu spiritus.
2. Mortir dan Stamper
Digunakan pada saat penggerusan sampel. Alat ini disterilkan dengan membungkusnya dengan kertas perkamer lalu disterilkan di autoclave.
3. Ose Bulat
Terbuat dari kaca dan kawat platina yang berfungsi untuk inokulasi bakteri aerob dengan cara menggoreskan pada permukaan medium. Ose harus disterilkan dengan cara pemijaran pada lampu spiritus. Setelah digunakan, ose harus kembali dipijarkan supaya mikroba yang tertinggal pada ujung jarum menjadi mati.
4. Ose Lurus
Terbuat dari kaca dan kawat platina yang berfungsi untuk inokuiasi bakteri anaerob dengan cara tusukan. Mikroba yang akan ditanam diambil dengan menggunakan bagian ujung dari ose. Ose harus disterilkan dengan cara pemijaran pada lampu spiritus. Setelah digunakan, ose harus kembali dipijarkan supaya mikroba yang tertinggal pada ujung jarum menjadi mati.

5. Pencadang
Digunakan sebagai tempat untuk memasukkan sampel mikroba yang akan diukur zona hambatannya. Diameter dalamnya 6 mm dan diameter luarnya 8 mm, tinggi 10 mm.
6. Pinset
Digunakan untuk meletakkan pencadang dan paper disk diatas medium. Cara mensterilkan yaitu dengan membakar ujungnya di atas lampu spiritus.
7.. Rak tabung
Rak tabung terbuat dari kayu, berfungsi sebagai tempat penyimpanan tabung reaksi.
8. Spoit injeksi
Alat ini digunakan untuk memasukkan zat uji kedalam pencadang dan suspensi dalam medium. Terbuat dari kaca yang digunakan sebagai pengukur volume cairan yang akan digunakan secara akurat. Cara sterilisasinya yaitu dimasukkan dalam autoklaf.
9. Tabung durham
Terbuat dari kaca yang digunakan sebagai tempat menampung gas hasil fermentasi mikroba. Cara sterilisasinya yaitu dengan dibungkus dengan kertas lalu dimasukkan

BAB V
PENUTUP

V.I Kesimpulan
Dari hasil praktikum diperoleh bahwa pada laboratorium mikrobiologi, alat-alat dapat dikelompokkan menjadi
1. alat-alat sterilisasi mis oven, autoklave, lampu UV dsb
2. alat-alat pengukuran misalnya koloni counters, spektrofotomeer, neraca analtik.
3. alat-alat aseptis mis LAF, enkas. Lampu spirtus
4. alat-alat inkubasi kis inkubator aerob dan non aerob
5. alat-alat untuk melihat mikroba mis: mikroskop cahaya, mikroskop kamera
6. alat-alat tambahan/media mis: cawan petri, ose lurus, ose bulat, pencadang, objek glass, dsb

DAFTAR PUSTAKA

1. Lay, Bibiana W., (1994), Analisis Mikroba di Laboratorium, PT RajaGrafindo Persada : Jakarta.

2. Dwidjoseputro, D., (1990), “Dasar-dasar Mikrobiologi”, Djambatan : Malang.

3. Suriawiria, Unus, (1986), “Pengantar Mikrobiologi Umum”, Angkasa : Bandung.

4. Hadioetomo, Ratna S., (1990), “Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek”, PT Gramedia : Jakarta.

5. Lay, Bibiana W dan Sugyo H., (1992), “Mikrobiologi”, CV. Rajawali : Jakarta.

6. Djide, Natsir, (2005), “Penuntun Praktikum Instrumentasi Mikrobiologi farmasi Dasar”, Jurusan Farmasi Universitas Hasanuddin : Makassar.

About these ads